Saya
hampir setiap hari melakukan pekerjaan yang intinya memberikan kontribusi
terbaik pada pasien dan keluarganya maupun teman sejawat dan rumah sakit tempat
saya bekerja. Setelah pulang saya harus berkumpul dengan komunitas bisnis saya.
Kebetulan selain sebagai perawat, saya menjalani bisnis untuk investasi yang
kelak menuju pada kemerdekaan keuangan.
Belum
lagi ada masa saat saya menghadapi komplain pasien karena ada hal- hal yang
harus saya utamakan terlebih dahulu. Maklum, kita sebagai perawat, tentunya
melihat skala prioritas sebagai suatu strategi untuk mendahulukuan pasien yang
butuh pertolongan segera.
Sebagai
manusia, saya pun merasa lelah. Namun dalam lelah saya coba merenungkan dan
memaknai arti lelah yang dirasakan. Saat pulang dan duduk ditempat tidur sambil
berdialog dengan diri sendiri, "Mungkinkah lelah ini bernilai ibadah
disisi Allah?"
"Benarkah
lelah ku ini bukan untuk apa, tapi untuk siapa? Lelahku untuk orang-orang yang
yang mencintaiku? Ataukah, lelah ini hanya pemuas ego pribadi saja?"
Sebagai
perawat yang selalu pergi kerja pagi hari dan pulang sore menjelang malam,
menimbulkan kekhawatiran dalam benak, jangan sampai saya kehilangan moment
dengan orang-orang yang saya cintai.
Dari
semuanya itu, saya menyadari bahwa lelah saya bukan karena dunia, tapi karena
saya bekerja untuk orang-orang yang menderita, yang sejatinya dititipkan Allah
pada saya. Jadi, tak pantas jika saya marah pada lelah, atau bersungut pada
takdir. Lelah seorang perawat yang bekerja dengan tulus adalah jalan menuju
pada kehidupan setelah kita mati.
Nah,
bagaimana kita bisa memanage kesibukan dan lelah agar kita selalu memancarkan
energi positif pada pasien dan teman sejawat kita?
Bayangkan,
mungkin pasien itu adalah malaikat yang menjelma jadi orang sakit
Cobalah kita melihat setiap pasien adalah titipan Tuhan, maka seketika itu lelah dan frustrasi tadi akan berubah menjadi kekuatan baru yang memberi semangat untuk kesempurnaan pelayanan dan pekerjaan kita. Saya tidak akan menjelaskan tentang ini, karena hal ini hanya bisa dijelaskan dengan cara melakukannya. Masing-masing orang menginterpretasi hal ini berbeda sesuai motivasi yang ada dalam dirinya.
Perbanyak
Bersyukur agar terhindar dari marah-marah
Karena lelah, banyak orang bersungut kala pasien baru terus bertambah. Belum habis mengkaji yang satu, pasien yang lainpun datang dengan berbagai masalah kesehatan yang kompleks. Jika kerja adalah ibadah, biarkan lelah adalah kata "Amin" untuk menutup setiap doa kita.
Akhiri
setiap shift dengan kemenangan, agar kita terhindar dari tidak ramah terhadap
pasien atau pada teman sejawat.
Apakah
perawat adalah malaikat tanpa sayap?
Image
perawat adalah malaikat tanpa sayap hampir hilang, karena sayap-sayapnya mulai
patah oleh orang-orang yang hanya memandang sebelah mata tugas perawat. Banyak
sidak dilakukan penguasa setempat karena laporan kerabatnya yang mereka namakan
"rakyat". Atau memang benar sayapnya patah oleh ulah segelintir
perawat yang gagal memaknai lelah, sehingga tidak ramah pada pasien.
Saat
sidak, penguasa setempat menemukan kelemahan-kelemahan pelayanan perawat,
hingga dijadikan itu alasan untuk mendiskreditkan tugas-tugas keperawatan.
Alhalis, nama baik perawat pun jadi sesuatu yang tidak bernilai.
Entah
apakah setiap kesalahan dan kelemahan perawat itu disengaja atau tidak oleh
individu perawat sendiri, yang pasti jika kita bekerja dengan benar maka kita
akan terus bernilai. Seperti kata pepatah "Mutiara yang dibuang di
kubangan babi pun akan tetap menjadi mutiara"
Memang
untuk menjadi lebih baik itu sulit, tapi lebih sulit kalau kita tidak bekerja
dengan baik. Seorang perawat akan terus mengupgrade kapasitas dirinya ketika
dia mampu mengontrol setiap emosi negatifnya yang diakibatkan oleh lelah. Salam
sejawat.

0 Comments:
Posting Komentar